Meningkatkan Citra Merek melalui Desain Kemasan Makanan Tradisional Indonesia

Foto bersama pengusaha UMKM makanan/minuman khas Sukabumi.

Latar Belakang

PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) adalah suatu wadah yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam memfasilitasi potensi yang dimiliki dosen di perguruan tinggi untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi kepada masyarakat luas.

Kali ini, Penulis mendapatkan kesempatan melakukan pengabdian kepada masyarakat di bawah LPPM Universitas Multimedia Nusantara yang bekerjasama dengan PT Cipta Sarana Multiguna (sebagai konsultan penyelenggaraan program) yang diinisiasi langsung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.





Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus menggalakkan peningkatan dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Berbagai upaya terus dilakukan salah satunya melalui program mengembangkan merek dagang UMKM.

Program kali ini yang dilaksanakan adalah program Pengembangan Merek pada produk binaan Kementerian Perdagangan RI yang berorientasi Ekspor. Tahun 2018 kali ini, menargetkan lima kota besar di Indonesia yaitu: Ambon, Bandar Lampung, Sukabumi, Pekalongan, Jogjakarta, dan Bandung.

Penulis mendapat satu kesempatan berharga di kota Sukabumi untuk melakukan kepakaran di bidang desain komunikasi visual dalam memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada para UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) berkenaan dengan re-branding lewat logo dan desain kemasan. Lewat tulisan ini, penulis ingin membagikan pengalaman ketika penulis melakukan kegiatan tersebut selama tiga hari (29 ags – 31 ags 2018) di Hotel Selabintana. Sukabumi.

Apabila pembaca search di internet, akan banyak sekali pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Sukabumi yang sudah ternama / menjadi buah bibir para wisatawan lokal /asing dan berita-berita bisnis. Namun produk nya belum memiliki kesempatan untuk diekspor secara resmi oleh Kementerian Perdagangan. Sebut saja: Krispy Yammy Babeh (yang produknya sudah ada di All Fresh Market), Sambal Uleg K-ucan (Giant, Indomart, Alfamart), Hasmilk, Kripik Tempe Crispy “ KAHLA”, Teh Toba Wangi, Cemilan J37dral, Happy Taste, Marni’s Cake & Bakery, Sirup Pala Segers, Piro Coffee, dan masih banyak lagi.

Pada program kali ini, panitia mengundang sekitar 50 peserta pengusaha produk makanan dan minuman wilayah Sukabumi yang dianggap layak ekspor, namun tetap akan melalui dua kali proses seleksi. Target 10 produk yang dianggap memenuhi kriteria dan akan dilakukan survey pabrik, lalu akan diseleksi lagi dan pelaku UMKM terpilih akan mendapat pendampingan khusus berkala mengenai cara penggunaan merk, perubahan desain kemasan, dan lainnya, sehingga akan lebih mudah masuk di pasar mancanegara dan bersaing dengan produk-produk negara lainnya.

Penyuluhan tentang branding dan seleksi 10 besar di hari pertama.



Bapak Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukabumi, Drs. Asep Japar, MM, membuka acara


Awal kegiatan dibuka oleh Bapak Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukabumi (Drs. Asep Japar, MM) dan perwakilan Kementerian Perdagangan RI pusat (Ibu Hikmah Fitria).

Ibu Hikmah memaparkan bahwa kegiatan ini untuk membantu pengusaha UMKM terpilih yang akan dibantu kemendag dalam proses perdagangan ekspor. Ibu Hikmah menekankan bahwa kegiatan ini bukan untuk memberikan dana bantuan / dana hibah, melainkan penyuluhan/bimbingan agar segala kekurangan yang ada dalam produk bisa ditingkatkan dan diperbaiki agar sesuai dengan standard kelayakan perdagangan ekspor.


Sessi pertama, Ibu Ananda Fortunisa SE, Msi, dosen Ekonomi dari program studi Manajemen, Universitas Bakrie, memberikan penyuluhan berkenaan situasi bisnis makanan dan minuman di Indonesia yang semakin berkembang pesat membuat persaingan semakin kompetitif. Untuk bisa meraih sukses, bahwa usaha itu harus memiliki keunggulan tidak hanya dari kualitas produk, tapi juga dari identitas merek (branding) agar bisa dapat tetap bertahan atau bahkan memenangkan persaingan dalam bisnis. Bicara selain kualitas produk, beberapa cara untuk menciptakan keunggulan bersaing adalah dengan menerapkan strategi diferensiasi, citra merek, analisa perilaku konsumen, target pasar yang tepat sehingga dapat memenangkan persaingan yang sehat dan diharapkan dapat menembus perdagangan ekspor.




Sessi kedua, penulis (Leonardo Widya, S.Sn, M.Ds) sebagai dosen beberapa mata kuliah DKV di Program Studi Visual Brand Desain, Universitas Multimedia Nusantara, memberikan penyuluhan berkenaan dengan desain yang ideal dan tepat agar citra merek tampil semakin berkualitas dan layak menembus perdagangan ekspor.

Contoh beberapa Kemasan tradisional yang banyak beredar. Kemasan terkesan asal-asalan. Kemasan seperti ini tentu tidak bisa masuk pangsa pasar Export, Karena akan dianggap tidak higienis / tidak layak / tidak sesuai standard.


Penyuluhan oleh nara sumber, Leonardo Widya.

Penulis melihat kemasan yang dibawa sebagai sample oleh peserta selaku pengusaha, bahwasannya sudah jauh lebih baik ketimbang 5-10 tahun yang lalu. Ini sudah merupakan satu langkah lebih maju karena bahwasannya sudah ada awarness terhadap citra kemasan itu sendiri. Maka dalam hal ini, penulis memberikan penyuluhan berdasarkan kekurangan-kekurangan kecil yang harus dipertimbangkan di masa yang akan datang.



Beberapa produk makanan kemasan dari sekitar 30 peserta pengusaha, di wilayah Sukabumi yang sudah jauh lebih baik.


Pada awal penyampaian materi, penulis agak canggung memulai karena penulis mengamati bahwa rata-rata peserta adalah para pengusaha dan pelaku UMKM yang sukses dan cukup dikenal, yang produknya banyak dicari para wisatawan / pemburu kuliner cemilan. Mereka juga sudah sering mengikuti beragam pelatihan yang diinisiasi oleh pemerintah setempat dalam meningkatkan produknya. Alhasil, penulis merasa seperti akan menggurui peserta yang notabene adalah pelaku-pelaku usaha yang sukses.

Untuk menghilangkan rasa canggung, penulis menyampaikan permohonan maaf kepada peserta bilamana dalam kegiatan konseling nanti, akan berperan menjadi seorang kritikus visual yang akan mengkritisi kekurangan dan ketidaksesuaian yang berkenaan dengan tampilan logo dan desain pada kemasan. Pernyataan penulis tersebut kontan mendapat simpati dari peserta, diiringi sorakan kecil, anggukan tanda setuju, dan ada peserta yang berkata: "Justru ini yang kami butuhkan pak ! Kami ingin menjadi lebih baik. Kami ingin lebih maju!"

Fungsi Pokok Kemasan.
Di awal materi, penulis menyampaikan pokok-pokok penting fungsi kemasan, yaitu:
1. Promosi (menarik perhatian pelanggan)
2. Contain (berkenaan kesesuaian dengan jenis produk)
3. Protect and Preserve (berkenaan dengan kemampuan kemasan dalam menjaga / melindungi barang selama pengiriman, mencakup benturan, suhu udara, tumpukan, dan lainnya).
4. Communicate (berkenaan dengan kejelasan /kelengkapan dalam memberikan informasi yang dibutuhkan)
5. Efficiency and Ergonomic, antara lain berkenaan dengan:
-Kemudahan di distribusikan (Pabrik ke Grosir ke Pengecer).
-Kemudahan di display / dipajang.
-Kemudahan dibawa-bawa / dijinjing / dikantongi / disimpan.
-Kemudahan dibuka-tutup

Berdasarkan fungsi pokok tersebut, penulis mengajak peserta untuk menganalisa kemasan produknya, hal-hal apa yang perlu diperbaiki atau disempurnakan sebagai bagian dari re-branding.

Kelengkapan dan kejelasan informasi pada kemasan.
Dari pengamatan penulis berdasarkan kemasan yang dibawa oleh peserta, penulis menyampaikan dan memberikan penyuluhan bahwa masih banyak kemasan yang belum menyampaikan informasi lengkap, seperti tanggal kadaluwarsa, kandungan gizi, saran penyajian, kode produksi, dan lain-lain.

Penulis mengajak peserta untuk meneliti kembali / mendata kembali kelengkapan Informasi yang ada pada kemasan.



Sumber Gambar : https://dwindapuspasari2013.files.wordpress.com/2015/07/packaging-produk-yang-baik-600x393.jpg


Selain itu, masih banyak kemasan yang tidak memperhatikan keterbacaan / kejelasan teks pada tulisan, misalnya, berkenaan dengan warna yang tabrakan sehingga menyulitkan pembeli dalam membaca Informasi. Pemilihan typography yang kurang tepat, misalnya pemilihan huruf script (huruf sambung) untuk body teks dengan ukuran kecil sekali hingga tidak dapat terbaca.

Visual pada Kemasan
Penulis juga mengingatkan kepada peserta untuk tidak menggunakan gambar-gambar klip art karena masih banyak kemasan yang dengan mudah menjiplak gambar dan motif dari klip art. Walaupun klip art yang digunakan status nya bebas pakai (open source) namun penggunaannya dapat mempengaruhi citra produk itu sendiri. Motif, ikon lokal konten, dan kearifan lokal, juga perlu digali. Termasuk kalimat / bahasa promosi, bisa menjadi pertimbangan dalam eksplorasi desain kemasan yang baru. Untuk itu, artefak visual Sukabumi sebagai lokal konten perlu digali sebagai bagian dari visual desain kemasan khas makanan Sukabumi.

Seleksi 10 besar
Setelah penyampaian materi branding dan desain kemasan oleh nara sumber tersebut di atas, kami melakukan interview dan penilaian terhadap 50 peserta selama sekitar 4 jam, berdasarkan faktor-faktor seperti: keabsahan dokumen (Label Halal, MUI, HAKI, BPOM, Ijin Usaha), kelengkapan profil produk, profil pasar yang sudah dicapai, tingkat kemampuan usaha dan potensi ekspor, SDM, dan lain-lain dengan pengukuran lewat instrumen Kualitas Pelaku Usaha. Kemudian tim panitia memutuskan dan mengUMKMkan 10 besar yang layak melalui proses selanjutnya.

10 merek UMKM yang lolos adalah: Krispy Yammy Babeh, Sambal Uleg K-ucan, Hasmilk, Kripik Tempe Crispy “ KAHLA”, Teh Toba Wangi, Cemilan J37dral, Happy Taste, Marni’s Cake & Bakery, Sirup Pala Segers, dan Piro Coffee.

Rasa kecewa pasti ada untuk peserta yang tidak terpilih. “Bapak / Ibu.. Jangan berkecil hati ya… itu artinya bapak/ibu masih harus banyak memperbaiki kekurangan dan melengkapinya agar bisa mengikuti program selanjutnya”, kata salah satu panitia.

“Tidak apa pak. Saya sadar, masih banyak yang harus saya perbaiki. Terimakasih untuk penyuluhan yang sudah diberikan hari ini” katanya.

Survei ke rumah produksi UMKM di hari kedua.
Setelah melakukan penilaian dan analisa terhadap 50 peserta berkenaan dengan kemampuan produksi, kelayakan produksi, pencapaian target / perkembangan usaha setiap peserta, penulis bersama team konsultan (PT Cipta Sarana Multiguna) dan kementrian perdagangan melakukan survei / Inspeksi ke 10 produk terpilih untuk dilakukan penilaian lebih lanjut. Kami melakukan wawancara dan pengamatan seluruh proses produksi, seperti: bahan baku yang diperoleh, kendala yang sering ditemui, kapasitas produksi, kesejahteraan tenaga kerja, prestasi yang dicapai, dan masih banyak lagi sebagai penilaian dasar dari kurasi ketat produk terpilih.

Kami juga memberikan penyuluhan berkenaan dengan kebersihan /higienis. Memberi saran agar proses produksi harus lebih bersih. Mewajibkan penggunaan masker dan sarung tangan dalam proses kerja yang berhubungan dengan makanan, lantai yang harus dijaga kebersihannya, ruangan-ruangan yang harus steril, alur produksi yang harus diperbaiki, dan lainnya. Sehingga peserta yang nantinya lolos bisa mempersiapkan lebih awal, dan yang belum lolos dapat menyempurnakan agar program berikutnya berpotensi lolos penilaian.

Kunjungan ke Produk Krispy Yammy Babeh - kripik singkong tipis etnik rasa unik. Dari kiri ke kanan, Ibu Elget (Kemendag), Leonardo Widya (penyuluh bidang desain dan kemasan), Ananda Fortunisa (penyuluh bidang branding dan marketing), bersama owner: Bunda Elis dan suami (yang sering dipanggil Babeh oleh warga sekitar).

Kunjungan ke Rumah Produksi Sambal Uleg K-ucan (Ibu Susan), yang bekerjasama dengan owner Keripik Karuhun (Bapak Yana Hawi Arifin) dalam pemasaran Sambal Uleg. Foto bersama rekan-rekan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).


Mengamati proses produksi Teh Toba Wangi.



Rumah Produksi Marni’s Cake & Bakery


Produksi Yoghurt HASMILK

Presentasi dan konseling UMKM di hari ketiga.
Hari ketiga para peserta mempresentasikan dan menceritakan produknya, dari sejarah dan harapannya di masa datang. Lalu konseling dilakukan secara individu terhadap kebutuhan pengembangan bisnis juga berkenaan desain kemasan, penyempurnaan logo produk, logo perusahaan, penyempurnaan desain maskot yang sudah ada untuk beberapa produk, dan lain-lain yang berhubungan dengan desain komunikasi visual.

 



Kegiatan konseling desain kemasan dan strategi bisnis di hari ketiga.

Pada kegiatan ini, kebetulan penulis tidak berwenang mengeliminasi produk yang dianggap tidak layak. Penilaian yang dilakukan berdasarkan penilaian dan pengamatan dari Kemendag. Lolos atau tidak nya, kemendag dan panitia program akan mengabari langsung secara tertulis lewat surat.

Selesai melakukan konseling, penulis memberikan motivasi sebagai penutup, agar jangan berkecil hati apabila tidak lolos untuk mengikuti program lanjutan. Tidak lolos, bukan karena produknya tidak enak, tetapi lebih karena proses produksi yang masih terlalu banyak perlu perbaikan dan peningkatan, itu artinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan persiapan panjang untuk memenuhi standar agar bisa mengikuti kesempatan berikutnya. Akhir kata, penulis ucapkan selamat untuk yang nantinya terpilih, dan tetap semangat untuk produk yang belum terpilih.

Maju terus UMKM.
Lestarikan makanan tradisional Indonesia !
Maju terus Indonesia !

Pustaka:
https://dwindapuspasari2013.wordpress.com/2015/07/22/yang-perlu-kamu-tahu-tentang-food-packaging/
https://radarsukabumi.com/2018/09/04/sepuluh-umkm-diseleksi-kementerian-perdagangan/
------------------------------------------
Oleh : Leonardo Widya, S.Sn, M.Ds
Email : Leonardo.adi@lecturer.umn.ac.id
Kontak : 0818-863-430
Penulis saat ini aktif sebagai:
-Dosen Homebase, Prodi DKV - Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong.
-Dosen Prodi DKV - Universitas Pelita Harapan, Karawaci.
-Guru Seni di UPH-College, Karawaci.


Lihat video liputan di:
https://youtu.be/WkaO8QdsVC4

Baca berita kunjungan selanjutnya dalam rangka pengembangan merek di Bandung & Pekalongan. http://duniagrafika.com/meningkatkan-citra-merek-UMKM-bandung-pekalongan.html

LIHAT EVENTS LAINNYA